Bahasa Indonesia: Dicawuki zonder Dicawiki


Entahlah, tiba-tiba muncul di benakku keinginan untuk mencoba menulis lagi dalam Bahasa Indonesia. ...

Kepulanganku ke Indonesia setelah sekian lama mukim di negeri orang dan keputusanku untuk menetap lagi di negeri ini telah memaksaku untuk kembali menggunakan Bahasa Indonesia--bahasa kere kosa kata yang selama ini sangat tidak aku sukai. Bagaimana tidak?

Meskipun sudah lebih dari setengah abad menikmati status bergengsi sebagai bahasa nasional, tetap saja bahasa Indonesia berada di bawah garis kemiskinan perbendaharaan kosa kata. Keadaan ini sungguh sangat disayangkan bagi yang menyayangi BI dan sungguh sangat dibencikan bagi yang membenci BI, seperti aku.

Memang aku temukan banyak kata serapan baru yang masuk ke dalam Bahasa Indonesia, namun kebanyakan kata-kata tersebut menurutku asal dicawuki tanpa dicawiki dari bahasa asing. Barangkali karena kata-kata serapan dari bahasa asing tadi memang tidak bisa ditemukan padanannya dari ratusan bahasa daerah yang tersebar di Kepulauan Nusantara. Apakah ini suatu keniscayaan? Ataukah perwujudan dari inferioritas yang semakin parah menggerogoti sel-sel neuron bangsa ini?

Aku sengaja menggunakan kata dicawuki untuk mengatakan bahwa kata-kata tersebut terkesan asal ambil, pun penerapannya terasa kurang tepat, sulit untuk dilafalkan dan tidak nyaman di telinga, misalnya kata-kata yang dari bahasa asalnya merupakan kata benda kemudian dipaksakan untuk menjadi kata kerja dalam Bahasa Indonesia, contohnya mensimplifikasikan, mensinkronisasikan, mendiskreditkan, memanage, dsb.

Parahnya lagi, kata-kata tersebut aku dengar sering diucapkan oleh para pejabat tinggi dan kalangan cerdik cendekiawan negeri ini, yang rata-rata memang bermulut tidak seksi [nek ngomong sokur njeplak lambene] dan berpinggang sangat tidak ramping setelah kebanyakan nguntal barang haram. Adalah wajar jika kelatahan mereka membuatku sulit untuk kasengsem dengan salah satu di antara mereka [satu saja sebab aku juga termasuk pemercaya monogami]. Alhasil aku tetap melajang hingga kini. Ada yang berminat?

Tadi aku juga menyebutkan kata dicawiki, kata yang berasal dari Bahasa Jawa ini sengaja aku pilih untuk menjelaskan kenyataan bahwa meskipun kata serapan dari bahasa asing yang masuk ke dalam Bahasa Indonesia cenderung lebih dimuliakan statusnya dibandingkan yang berasal dari bahasa daerah, namun masih belum mampu membangkitkan selera makanku karena berasal dari suatu perbuatan kotor asal dicawuki zonder dicawiki tadi, yakni tanpa memilih dan memilahnya terlebih dahulu. Tindakan ini jelas bisa menyinggung perasaan si empunya bahasa asal [mudah-mudahan masih ada orang Indonesia yang mau berpikir sejauh ini].

Miskinnya perbendaharaan kosa kata Bahasa Indonesia acapkali menjadi penyebab kemandegan proses berpikirku jika aku harus berpikir dan mengutarakan buah pikiranku dalam bahasa ini.

Lantas timbul keinginanku untuk bertanya, "Apakah Bahasa Indonesia juga berpengaruh terhadap kemandegan proses berpikir bangsa ini sehingga belum juga mampu beranjak dari berbagai kemelut yang telah lama melanda negeri tercinta kita ini?

Apakah penunjukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa bertujuan agar bangsa Indonesia bersatu menjadi mandeg kemampuan daya ciptanya ... menjadi bodoh semua, hingga Bahasa Indonesia di kemudian hari pantas diberi gelar kehormatan Bahasa Pemersatu Kebodohan Bangsa?"

Penampilanku yang memang mirip selebriti peraih Piala Citra buruk membuatku tak kuasa melawan arus. Paling banter aku hanya bisa menjerit, "Lontooong, eh toloooong, sadarkan zhang-zhanganku [pacarku] dari pingsannya!"

That's shit ... oops, I mean that's it for now.
Mastoni


back to the top

domain lookup . sms pujcka na smenku . Best low-price research paper . All messages have safely encrypt data and you can send them for free when win free iPod Touch.